Musim Hujan Tiba, Plt. Bupati Jember : Selain Covid-19, Waspadai juga DBD

0
142

JEMBER, BP – Infeksi dengue merupakan penyakit potensial dan masih endemis di Indonesia. Tak terkecuali di Kabupaten Jember, yang merupakan salah satu daerah penyumbang kasus tertinggi di Provinsi Jawa Timur setiap tahunnya. Selain itu, infeksi dengue dapat menjadi koinfeksi bagi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) dan mengakibatkan gejala lebih berat.

Melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jember, pemerintah memberikan imbauan kepada masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan dan pengendalian infeksi dengue dalam masa pandemi Covid-19. Tujuannya agar tidak sampai terjadi kejadian luar biasa yang dapat menambah beban program di kemudian hari.

“Oleh karena itu, perlu dilakukan antisipasi terjadinya peningkatan kasus infeksi dengue ataupun kasus koinfeksi antara dengue dan Covid-19,” tutur Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jember Dyah Kusworini SKM MSi. Yakni, dengan menerapkan kaidah tatanan dan adaptasi kebiasaan baru serta kebijakan yang dimungkinkan dapat berubah mengikuti perkembangan kasus Covid-19.

Mewakili Plt Bupati Jember Drs KH Abdul Muqit Arief, Dyah menuturkan bahwa imbauan tersebut merupakan lanjutan dari surat edaran (SE) terbaru Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI serta Rekomendasi Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya. “Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pencegahan dan pengendalian DBD dalam situasi pandemi ini,” ungkapnya.

Dalam hal upaya pencegahan dan pengendalian, lanjut dia, masyarakat harus mengedepankan langkah preventif promotif dengan melakukan gerakan 3M plus bersama-sama. Yakni dengan menguras dan menyikat, menutup tempat penampungan air, serta membersihkan, memanfaatkan, atau mendaur ulang barang bekas.

Selain itu, melibatkan lintas sektor dan seluruh komponen masyarakat yang meliputi Dinkes, puskesmas, desa/kelurahan, ketua RW/RT setempat bersama kader jumantik dengan meningkatkan kemandirian dan partisipasi aktif masyarakat.

“Program satu rumah satu jumantik perlu terus ditingkatkan efektivitasnya. Terutama dalam masa pandemi dalam monitoring dan evaluasi dengan melibatkan kader kesehatan,” ujarnya

Selanjutnya, melakukan pemasangan larva trap dan ovilar trap di beberapa tempat dengan kasus DBD tinggi. Di antaranya, Kelurahan Mangli, Desa Sabrang, dan Desa Andongsari. “Dengan demikian, dapat menjadi salah satu teknologi sederhana tepat guna mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti. Tapi harus rutin diawasi dan air yang digunakan dibuang di tempat yang kering dan terkena panas matahari,” lanjutnya.

Melalui pihak-pihak terkait, Dyah menjelaskan bahwa masyarakat juga harus rutin melakukan abatisasi, larvasida, fogging, dan penyelidikan epidemiologi setiap ada kasus DBD. “Untuk pelaksanaan PE, petugas wajib menggunakan masker dan melakukan physical distancing, PE dilakukan di luar rumah, lalu memberikan edukasi kepada penghuni rumah untuk mengidentifikasi sarang nyamuk di dalam rumah,” imbuhnya.

Selain itu, juga harus memperhatikan potensi tempat perindukan vektor di rumah kosong atau yang tidak dihuni, serta kontainer dalam rumah yang sering terabaikan kebersihannya seperti dispenser, vas, botol, dan pot tanaman dengan air tergenang. “Bila ada salah satu pihak keluarga mengalami gejala demam, segera menghubungi petugas kesehatan,” paparnya.

Selanjutnya, para petugas bakal melakukan penyelidikan epidemiologi. “Hasil dari PE akan menentukan langkah selanjutnya. Bisa fogging atau larvasida,” tandasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here