KJI Jember Kecam Pernyataan Danlanud Haluoleo Kendari

0
78
siluet
ilustrasi jurnlias

JEMBER, BP – Tudingan tidak sedap yang menyasar kepada insan jurnalis tanah air kembali terjadi. Kali ini terjadi di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (Sulteng).

Hal tersebut sebagaimana yang telah diberitakan oleh salah satu media daring nasional Kumparan pada tautan https://m.kumparan.com/kendarinesia/larang-liput-tka-china-danlanud-khawatir-ada-teroris-menunggangi-wartawan-1tkvrHa9ty4 tanggal 7 Juli 2020.

Dalam berita tersebut, Danlanud Haluoleo Kendari, Kolonel Pnb Muzafar saat diwawancarai wartawan dalam sebuah peliputan mengenai kedatangan gelombang kedua Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Tiongkok di Bandara Haluoleo Kendari, Sultra pada 30 Juni 2020 lalu menyatakan pernyataan yang kontoversial mengenai citra profesi jurnalis.

Kolonel Pnb Muzafar mengatakan bahwa wartawan ditunggangi oleh teroris. Hal itu dia nyatakan dengan dalih tidak ingin mengambil risiko dengan mengizinkan para wartawan meliput kedatangan TKA Tiongkok di Bandara Haluoleo.

“Itu kan bukan saya melarang. Kan sudah pernah diliput, dan saya punya wewenang penuh untuk intensitasnya keributan itu seperti apa. Saya engga mau ambil risiko (kalau) mas-mas wartawan ini ditunggangi sama teroris. Iya ditunggangi,” kata sang Danlanud Kolonel Pnb Muzafar sebagaimana berita yang dimuat Kumparan pada tautan di atas.

Terkait pernyataan Danlanud Haluoleo Kendari, Kolonel Pnb Muzafar yang terkesan tendensius tersebut, Komunitas Jurnalis Independen (KJI) Jember menyatakan keprihatinannya.

Meski peristiwa tersebut dialami oleh rekan jurnalis di Kendari, Sultra KJI Jember, Jawa Timur menilai bahwa pernyataan Danlanud Haluoleo Kendari, Kolonel Pnb Muzafar telah menyinggung profesi jurnalis di tanah air secara keseluruhan.

Pernyataan tersebut juga berpotensi menjadi preseden buruk bagi hubungan antara jurnalis dengan aparat TNI.

Sebagaimana telah diketahui khalayak, bahwa teroris merupakan seseorang atau pihak yang melakukan aksi-aksi teror yang tidak jarang menyebabkan kerugian materi maupun nonmateri hingga korban jiwa dari kalangan sipil maupun aparat.

Di Negara Kesatuan Republik Indonesia, aksi teroris (atau terorisme) terbilang cukup tinggi. Hal tersebut yang menjadikan terorisme ditetapkan sebagai kejahatan luar biasa dan kejahatan lintas negara (transnasional). Selain itu, keberadaan terorisme menjadi ancaman bagi Hak Asasi Manusia (HAM) dari berbagai aspek, keamanan nasional, hingga keutuhan NKRI.

Selain itu, dalam aksinya teroris hampir selalu berbekal atau dibekali senjata yang membahayakan nyawa seperti bahan peledak atau bom, senjata api maupun senjata tajam.

Hal tersebut amat bertolak belakang dengan profesi jurnalis yang mengedepankan HAM dan turut menjaga keutuhan NKRI melalui tulisan atau berita dari peliputan yang profesional.

Profesi jurnalis kerap memberikan edukasi kepada masyarakat tentang peristiwa di sekitarnya yang tidak diketahui sebelumnya. Bagi pemerintah, kerja jurnalis juga dapat membantu pemerintah baik pusat maupun daerah untuk mengetahui, memonitor persoalan di masyarakat yang mungkin tidak tersentuh program-programnya.

Tidak jarang, tulisan berita dari hasil kerja jurnalis pengingat dan cambuk bagi rezim untuk menjalankan amanah yang diembannya untuk kemakmuran masyarakat.

Berbeda dengan teroris, dalam tugas peliputannya jurnalis dibekali atau berbekal kartu pers, surat tugas, serta kode etik jurnalistik.

Dari penjelasan tersebut di atas, sangat jelas dan meyakinkan perbedaan antara jurnalis dengan teroris dari sudut pandang manapun.

Karena itu, KJI Jember mengambil sikap untuk menuntut sejumlah hal:

1. Danlanud Haluoleo Kendari Kolonel Pnb Muzafar juga harus segera meminta maaf secara terbuka kepada jurnalis tanah air terkait pernyataan mengenai jurnalis ditunggangi teroris.

2. Danlanud Haluoleo Kendari Kolonel Pnb Muzafar harus menerangkan atau mengklarifikasi pernyataan jurnalis ditunggangi teroris dalam peliputan kedatangan TKA Tiongkok di Bandara Haluoleo pada 30 Juni 2020.

3. Danlanud Haluoleo Kendari Kolonel Pnb Muzafar harus memperbaiki sikap dan gaya komunikasi kepada jurnalis yang melakukan tugas peliputan.

Demikian pernyataan pers ini kami buat dengan harapan kejadian serupa tidak terulang tidak hanya di Kendari, namun juga di seluruhnya tanah air. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here